Selasa, 11 Oktober 2016

Untaian Diksi

Untaian Diksi
oleh: Nuraeni Adriati

Jari-jari menari merangkai untaian diksi
Mata menelusuri ejaan kata
Jiwa berkelana
Dalam titik-titik fatamorgana
Bait-bait puisi tercipta
Meluruhkan bongkahan asa
Melebur sepi tak terdefinisi
Menembus ruang hati
Diantara sekat sanubari
Terlukis sebuah bayangan
Sosok yang lekat dalam ingatan
Menjelma nan nyata
Mengukir sebuah senyuman
Dalam untaian diksi
Ada rindu yang tertahan

Bandung Barat, 15 September 2016

Kamis, 29 September 2016

Temukan Aku dalam Istikharahmu

Temukan Aku dalam Istikharahmu
oleh: Nuraeni Adriati

Kau tahu?
Aku tak sebaik pandanganmu
Kau sadari?
Aku bukan bidadari
Aku adalah aku
Aku dengan segala kekuranganku
Kaum hawa yang tak luput dari dosa
Senantiasa berharap maghfirah-Nya

Aku bukan siapa-siapa
Tak berarti apa-apa jika tanpa Dia
Aku hanya setitik cahaya
Diantara miliyaran bintang yang ada
Aku hanya jelaga
Teramat jauh dengan mutiara
Ragaku hanya titipan
Dialah sumber segala kebaikan

Saat engkau memilihku
Yakinkah dengan pilihanmu?
Bukankah banyak yang lebih baik dari aku?
Bukankah banyak yang memikat hatimu?
Jangan bermain-main dengan rasamu
Gunakanlah logikamu
Dekati Sang Pemilik waktu
Temukan aku dalam istikharahmu

Bandung Barat, 29 September 2016

Selasa, 27 September 2016

Hijrah

Hijrah
oleh: Nuraeni Adriati

Kutemukan titik terang
Dari pekatnya ruang kehampaan
Sesak menyeruak
Aku tertunduk dan membeku
Dengan mata yang mulai basah
Aku bersimpuh di atas sajadah
Betapa lalainya diri ini
Mengingkari nikmat yang Engkau beri
Ribuan hari terbuang sia-sia
Sebab terlalu cinta pada dunia
Aku lupa pada ayat-ayat-Mu
Hingga terasa semakin jauh dari-Mu
Padahal Engkau dekat
Sungguh, Engkau sangat dekat
Wahai Pemilik waktu
Aku tak tahu kapan malaikat maut menjemputku
Namun satu pintaku
Ijinkan aku mendekat kepada-Mu
Ijinkan aku memperbaiki diriku
Sebab hanya dengan ijin-Mu
Aku hijrah menuju cahaya-Mu

Bandung Barat, 27 September 2016

Jumat, 26 Agustus 2016

Ruang Imaji

Ruang Imaji
oleh: Nuraeni Adriati

Menelisik ruang imaji
Terbingkai jutaan memori
Satu titik tampak semu
Perlahan melebur dan hancur
Lalu lenyap tak berjejak
Hanya menyisakan sesak

Usah direkatkan kembali
Percuma
Biarkan sirna
Perubahan itu nyata
Tanpa diminta pun terjadi
Jika dihalau pun tetap terjadi

Tak perlu menunggu mentari
Tak perlu menanti pelangi
Terus melangkah
Menapaki jalan kepastian
Pupuskan keraguan
Hingga kau dapatkan buah keikhlasan

Bandung Barat, 26 Agustus 2016

Senin, 13 Juni 2016

Hapuskan Trauma

Hapuskan Trauma
oleh: Nuraeni Adriati

Deru ombak terdengar merdu diiringi hembusan angin yang menyibak rambutku. Kulangkahkan kaki bersama jejak-jejak yang terbentuk di atas pasir tepat di bibir pantai nan indah ini. Segala puji bagi Sang Pencipta tiada henti terurai dalam hatiku atas keindahan alam yang tiada duanya. Alam yang menjadi saksi bisu atas semua tingkah laku manusia di muka bumi.

Tak pernah kubayangkan sebelumnya untuk bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Tempat yang bertahun-tahun aku hindari. Bukan tanpa sebab, semua karena trauma di masa kecilku. Tepatnya saat aku kelas enam SD.

Hari itu adalah hari pertama liburanku selepas acara kelulusan di sekolah. Ayah dan ibu mengajakku berlibur ke pantai. Tentu saja aku sangat senang, itu menjadi pengalaman pertamaku. Saat yang lain berlibur ke tempat-tempat bermain seperti Dufan, aku sangat senang ketika ayah dan ibu memutuskan untuk ke pantai.
Karena musim liburan, di sana sangat ramai. ibu tidak melepaskan genggaman tanganku. Kami berjalan-jalan menyusuri pantai, kemudian ayah ingin berenang. Sedangkan aku hanya boleh bermain pasir karena saaat itu aku belum bisa berenang. Ibu mengawasiku dari jarak beberapa meter.

Saat aku tengah asyik membuat istana pasir, kurasakan angin berhembus lebih kencang. Kupikir memang begini angin di pantai. Deru ombak jelas bergemuruh. lalu ibu menghampiriku,  ia berjongkok di hadapanku.
"Nita, sudah ya main pasirnya. Kita siap-siap kembali ke hotel." Ibu mengajakku.
"Sebentar lagi bu. Ini sebentar lagi selesai. Ayah juga masih berenang."

Ibu kembali duduk di pinggir pantai yang tak jauh dariku. Akhirnya, istana pasirku selesai. Harus ku tunjukkan kepada ayah, pikirku. Aku pun berdiri. Angin kencang itu kurasakan lagi, aku memanggil ibuku. Selangkah lagi ibu sampai di tempatku berdiri, tiba-tiba goncangan hebat terasa, ibu memelukku dengan panik berlari menjauhi bibir pantai.
 
Aku memanggil ayah, kulihat ombak begitu tinggi, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tahu ayah ada di sana. Aku sangat takut melihat ombak setinggi itu hingga menghancurkan istana pasirku. Ayah, aku takut yah. Aku terus memanggil ayah, aku mencoba berlari tapi ibu mencegahku.
"Ayah akan  baik-baik saja. Sudah, nanti petugas akan mencari ayah." Raut wajah ibu meragukan. Ia terlihat gelisah.

Kulihat semua orang panik, berlarian kesana-kemari meski goncangan hebat itu sudah tak terasa lagi. Aku dan ibu kembali ke hotel, setelah berganti baju ibu menghubungi penjaga pantai di sana. Bukan hanya ibu, tapi juga orang-orang yang memang mencari anggota keluarganya. Aku sangat takut. Aku masih menangis saat itu, sedangkan ibu terus mencari informasi tentang orang-orang yang belum ditemukan.
 
Tiba saat sore hari, aku dan ibu masih berada di pusat informasi. Semua orang dilarang mendekati pantai, hanya petugas yang boleh ada di sana. Sekelompok orang datang, salah satu petugas memanggil ibu. Ibuku mengikuti petugas itu, sedangkan aku disuruh menunggu. Anak-anak tidak boleh ikut masuk ke ruangan itu. Sekitar lima belas menit ibu berada di dalam. Aku cemas saat melihat ibu menangis. Ibu mengajakku pulang tanpa menjelaskan apapun.

Entah perasaan apa, semua bercampur aduk. Aku sudah tidak berani bertanya lagi kepada ibu, kulihat ibu terus menangis sambil terus merangkulku. Aku dan ibu pulang ke rumah diantar oleh petugas yang tadi ada di pantai. Aku teringat ayah. Dimana ayah, kenapa tidak ikut pulang bersamaku. 1 jam berlalu, akhirnya aku dan ibu tiba di rumah. Beberapa menit kemudian kudengar suara ambulance, sontak aku kaget. Ayah, apa itu ayah? Kenapa pakai ambulance?

Orang-orang berkumpul di rumahku. Kemudian petugas dari dalam ambulance membawa seseorang dari dalam ambulance yang sudah terbujur kaku. Mereka membawanya masuk ke dalam rumahku. Ibu merangkulku ikut masuk ke dalam. Saat penutup kain putih itu di buka, aku berteriak tak percaya. Kupeluk ayah untuk terakhir kalinya. Ayah, kenapa secepat ini yah. 

Semua itu terjadi lima tahun yang lalu. Duka mendalam yang membuatku enggan pergi ke pantai hingga bertahun-tahun. Sakit rasanya mengingat semua itu. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Beberapa kali sekolah mengadakan acara liburan ke pantai, tapi aku tidak pernah ikut. Rasa takut itu masih menghantuiku.

Pernah suatu hari, saat ulang tahunku yang ke 13. Teman-temanku mengajakku pergi ke suatu tempat. Mereka menutup mataku sejak aku menaiki mobil. Ternyata mereka membawaku ke pantai, kejutan yang berhasil membuatku menangis seharian. Saat itu mereka tidak tahu bahwa aku trauma pergi ke pantai. Hari ulang tahunku saat itu menjadi sangat berkesan, karena aku teringat kembali dengan apa yang kualami di pantai.

Namun kini, aku sudah bisa menerima kenyataan. Meskipun tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses untuk semua ini. Berulang kali menangis melawan rasa takut itu. Berkali-kali orang-orang meyakinkanku bahwa pantai itu indah, tidak selamanya kenangan buruk di sana harus disimpan. Nasihat guruku juga turut menyadarkanku.

Hingga akhirnya aku bisa berdiri di sini, menikmati senja yang indah ini bersama terpaan ombak menyentuh jari kakiku. Satu hal yang selalu kuingat dari guruku bahwa kita tidak pernah tahu sampai kapan waktu kita bernafas, maka jangan biarkan kenangan buruk di masa lalu itu menjadi penghalang bagi kita untuk melangkah maju. Menerima kenyataan tentu lebih baik daripada terus menetus menghindari ketakutan.

Memang ada beberapa trauma yang sangat sulit dihilangkan. Aku saja butuh waktu lima tahun. Tak ada yang instan. Butuh waktu dan proses yang tak mudah. Jangan pernah mencela seseorang yang mempunyai trauma terhadap kejadian di masa lalu, bantu ia bangkit dan tetap berusaha yakinkan ia bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup kita telah diatur oleh-Nya.

"Tak ada yang harus kita takutkan selain Dia, Sang Maha Pemilik jiwa. Biarkan waktu membuktikan, Dia selalu punya rencana yang tak pernah kita bayangkan. Nikmati hidup, namun jangan lupa kepada-Nya, jangan ingkari ketetapan-Nya."

Minggu, 15 Mei 2016

Cahaya

Cahaya
oleh: Nuraeni Adriati

Cahaya
Ciptaan Sang Maha Cahaya
Cahaya
Sumber energi bagi bumi
Cahaya
Penerang bagi makhluk-Nya
Cahaya
Menghapus kesemuan
Cahaya
Anugerah yang terindah
Cahaya
Melenyapkan kegelapan
Cahaya
Memendarkan ketidakpastian

Bandung Barat, 15 Mei 2016

Sepertiga Malam

Sepertiga Malam
Oleh: Nuraeni Adriati

Dalam hening
Dingin menusuk kalbu
Saat yang lain terlelap
Sepi menjadi sahabat


Sepertiga malam menjadi saksi
Untaian do’a dari hati
Penawar lelah bagi diri
Penyejuk bagi nurani

Sepertiga malam seperti obat
Berikan semangat dalam diri
Mendekat kepada Illahi
Titik kedamaian penghapus letih

Bandung Barat, 15 Mei 2016

Senin, 28 Maret 2016

Siluet Senja

Hamparan langit membentang
Sang surya mulai terbenam
Pertanda senja telah tiba
Langit biru berganti jingga

Hembusan angin menyeruak
Menggiring awan di angkasa
Melukiskan siluet senja
Nampak jelas dipandang mata

Penghujung hari selalu indah
Menjadi penawar rasa lelah
Merefleksi diri dan pikiran
Hempaskan segala beban

Siluet senja hadirkan inspirasi
Menumbuhkan benih-benih imaji
Namun bisakah kutemui lagi?
Siluet senja di esok hari

Bandung Barat, 09 Maret 2016

Kamis, 24 Maret 2016

Waktu

Waktu kan terus berlalu
Takkan bisa dihentikan
Masa kini kan jadi masa lalu
Menorehkan ribuan kenangan

Waktu menyimpan rahasia
Hingga hari hisab tiba
Sudahkah menyiapkan bekal?
Untuk menyongsong masa yang kekal

Waktu takkan terulang
Jangan habiskan dengan percuma
Jika ajal menjelang
Sesal pun tiada artinya

Bandung Barat, 14 Februari 2016

Rabu, 09 Maret 2016

Rembulan di Pagi Hari

Bumi masih berotasi
Bulan pun mengitari bumi
Kini bulan nampak di pagi hari
Berada di antara bumi dan mentari

Senin, 07 Maret 2016

Februari

Februari
Kutemui lagi
Bersama langit biru
Juga hujan sesekali
Dan masih di sini

Sabtu, 20 Februari 2016

Aku dan Hijabku

Assalamu'alaikum.
Sahabat semua, kali ini aku menulis tentang hijab. Sudah tidak asing lagi kan dengan hijab? Ya, sekarang ini hijab sudah menjadi bagian dari fashion dunia. Tapi yang akan aku sampaikan bukan tentang model-model hijab yang mendunia atau tutorial hijab yang sedang hits saat ini, aku hanya ingin berbagi pengalamanku dalam mengenakan hijab.
***

Minggu, 07 Februari 2016

Muhasabah Diri

Bersama larutnya malam
Mataku enggan tuk terpejam
Teringat dengan semua kenangan
Kala diri terlarut dalam harapan
Sesak kian terasa
Sebab diri sering lupa kepada-Nya
Menyimpan harap pada makhluk-Nya
Hingga kudapati hatiku terluka

Langit Biru

Hai langit biru, tahukah kamu?
Aku senang saat kau menampakkan dirimu
Aku senang berdiri sejenak di sini
Menatapmu di bawah pohon rindang ini
Warnamu menyejukkan
Sayang sekali jika kulewatkan

Penghujung Senja

Hujan yang tak kunjung reda
Meniadakan redupnya matahari di penghujung senja
Awan menutupi cahayanya
Menjatuhkan air tanpa perantara
Dingin perlahan menyergap tubuhku
Membuatku enggan beranjak dari tempat dudukku
Bersama basahnya pepohonan
Sesekali kutatap air yang berjatuhan