Hapuskan Trauma
oleh: Nuraeni Adriati
Deru ombak terdengar merdu diiringi hembusan angin yang menyibak rambutku. Kulangkahkan kaki bersama jejak-jejak yang terbentuk di atas pasir tepat di bibir pantai nan indah ini. Segala puji bagi Sang Pencipta tiada henti terurai dalam hatiku atas keindahan alam yang tiada duanya. Alam yang menjadi saksi bisu atas semua tingkah laku manusia di muka bumi.
Tak pernah kubayangkan sebelumnya untuk bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Tempat yang bertahun-tahun aku hindari. Bukan tanpa sebab, semua karena trauma di masa kecilku. Tepatnya saat aku kelas enam SD.
Hari itu adalah hari pertama liburanku selepas acara kelulusan di sekolah. Ayah dan ibu mengajakku berlibur ke pantai. Tentu saja aku sangat senang, itu menjadi pengalaman pertamaku. Saat yang lain berlibur ke tempat-tempat bermain seperti Dufan, aku sangat senang ketika ayah dan ibu memutuskan untuk ke pantai.
Karena musim liburan, di sana sangat ramai. ibu tidak melepaskan genggaman tanganku. Kami berjalan-jalan menyusuri pantai, kemudian ayah ingin berenang. Sedangkan aku hanya boleh bermain pasir karena saaat itu aku belum bisa berenang. Ibu mengawasiku dari jarak beberapa meter.
Saat aku tengah asyik membuat istana pasir, kurasakan angin berhembus lebih kencang. Kupikir memang begini angin di pantai. Deru ombak jelas bergemuruh. lalu ibu menghampiriku, ia berjongkok di hadapanku.
"Nita, sudah ya main pasirnya. Kita siap-siap kembali ke hotel." Ibu mengajakku.
"Sebentar lagi bu. Ini sebentar lagi selesai. Ayah juga masih berenang."
Ibu kembali duduk di pinggir pantai yang tak jauh dariku. Akhirnya, istana pasirku selesai. Harus ku tunjukkan kepada ayah, pikirku. Aku pun berdiri. Angin kencang itu kurasakan lagi, aku memanggil ibuku. Selangkah lagi ibu sampai di tempatku berdiri, tiba-tiba goncangan hebat terasa, ibu memelukku dengan panik berlari menjauhi bibir pantai.
Aku memanggil ayah, kulihat ombak begitu tinggi, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tahu ayah ada di sana. Aku sangat takut melihat ombak setinggi itu hingga menghancurkan istana pasirku. Ayah, aku takut yah. Aku terus memanggil ayah, aku mencoba berlari tapi ibu mencegahku.
"Ayah akan baik-baik saja. Sudah, nanti petugas akan mencari ayah." Raut wajah ibu meragukan. Ia terlihat gelisah.
Kulihat semua orang panik, berlarian kesana-kemari meski goncangan hebat itu sudah tak terasa lagi. Aku dan ibu kembali ke hotel, setelah berganti baju ibu menghubungi penjaga pantai di sana. Bukan hanya ibu, tapi juga orang-orang yang memang mencari anggota keluarganya. Aku sangat takut. Aku masih menangis saat itu, sedangkan ibu terus mencari informasi tentang orang-orang yang belum ditemukan.
Tiba saat sore hari, aku dan ibu masih berada di pusat informasi. Semua orang dilarang mendekati pantai, hanya petugas yang boleh ada di sana. Sekelompok orang datang, salah satu petugas memanggil ibu. Ibuku mengikuti petugas itu, sedangkan aku disuruh menunggu. Anak-anak tidak boleh ikut masuk ke ruangan itu. Sekitar lima belas menit ibu berada di dalam. Aku cemas saat melihat ibu menangis. Ibu mengajakku pulang tanpa menjelaskan apapun.
Entah perasaan apa, semua bercampur aduk. Aku sudah tidak berani bertanya lagi kepada ibu, kulihat ibu terus menangis sambil terus merangkulku. Aku dan ibu pulang ke rumah diantar oleh petugas yang tadi ada di pantai. Aku teringat ayah. Dimana ayah, kenapa tidak ikut pulang bersamaku. 1 jam berlalu, akhirnya aku dan ibu tiba di rumah. Beberapa menit kemudian kudengar suara ambulance, sontak aku kaget. Ayah, apa itu ayah? Kenapa pakai ambulance?
Orang-orang berkumpul di rumahku. Kemudian petugas dari dalam ambulance membawa seseorang dari dalam ambulance yang sudah terbujur kaku. Mereka membawanya masuk ke dalam rumahku. Ibu merangkulku ikut masuk ke dalam. Saat penutup kain putih itu di buka, aku berteriak tak percaya. Kupeluk ayah untuk terakhir kalinya. Ayah, kenapa secepat ini yah.
Semua itu terjadi lima tahun yang lalu. Duka mendalam yang membuatku enggan pergi ke pantai hingga bertahun-tahun. Sakit rasanya mengingat semua itu. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Beberapa kali sekolah mengadakan acara liburan ke pantai, tapi aku tidak pernah ikut. Rasa takut itu masih menghantuiku.
Pernah suatu hari, saat ulang tahunku yang ke 13. Teman-temanku mengajakku pergi ke suatu tempat. Mereka menutup mataku sejak aku menaiki mobil. Ternyata mereka membawaku ke pantai, kejutan yang berhasil membuatku menangis seharian. Saat itu mereka tidak tahu bahwa aku trauma pergi ke pantai. Hari ulang tahunku saat itu menjadi sangat berkesan, karena aku teringat kembali dengan apa yang kualami di pantai.
Namun kini, aku sudah bisa menerima kenyataan. Meskipun tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses untuk semua ini. Berulang kali menangis melawan rasa takut itu. Berkali-kali orang-orang meyakinkanku bahwa pantai itu indah, tidak selamanya kenangan buruk di sana harus disimpan. Nasihat guruku juga turut menyadarkanku.
Hingga akhirnya aku bisa berdiri di sini, menikmati senja yang indah ini bersama terpaan ombak menyentuh jari kakiku. Satu hal yang selalu kuingat dari guruku bahwa kita tidak pernah tahu sampai kapan waktu kita bernafas, maka jangan biarkan kenangan buruk di masa lalu itu menjadi penghalang bagi kita untuk melangkah maju. Menerima kenyataan tentu lebih baik daripada terus menetus menghindari ketakutan.
Memang ada beberapa trauma yang sangat sulit dihilangkan. Aku saja butuh waktu lima tahun. Tak ada yang instan. Butuh waktu dan proses yang tak mudah. Jangan pernah mencela seseorang yang mempunyai trauma terhadap kejadian di masa lalu, bantu ia bangkit dan tetap berusaha yakinkan ia bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup kita telah diatur oleh-Nya.
"Tak ada yang harus kita takutkan selain Dia, Sang Maha Pemilik jiwa. Biarkan waktu membuktikan, Dia selalu punya rencana yang tak pernah kita bayangkan. Nikmati hidup, namun jangan lupa kepada-Nya, jangan ingkari ketetapan-Nya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar