Minggu, 24 Desember 2017

Menuju Senja

Entah ini akhir ataukah permulaan.
Entah akan ada kisah selanjutnya atau hanya sampai di sini saja.

Saat ikhtiar kesekian telah dilakukan, namun hasil masih belum sesuai harapan. Aku tak bisa memaksa keadaan, do'a adalah sebaik-baik kekuatan.

Menuju Senja.
Purwakarta, 24 Desember 2017

Senin, 18 Desember 2017

Tingkat Akhir

Tahap demi tahap telah terlewati. Waktu terasa singkat, padahal semua melalui proses yang cukup panjang.

Katanya ini tingkat akhir. Ya, tingkat akhir sebuah fase dari sekian fase yang akan dihadapi karena sejatinya semua terus berlanjut meski kita telah melewati sebuah masa yang kita sebut sebagai 'tingkat akhir'.

Tingkat akhir, apa yang kamu pikirkan saat membaca kata-kata itu?

Bagiku, hal yang muncul di pikiranku adalah skripsi dan segala hal tentangnya. Jika dulu aku hanya mendengar dari mereka yang sudah lebih dulu melewati tingkat akhir, kini aku mengalami dan benar-benar merasakan sendiri. Ternyata begini. Harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Tingkat akhir bukan suatu hal yang harus ditakuti namun satu tahap yang harus diperjuangkan. Berhenti mengeluh, di luar sana ada banyak orang yang menantikan kelulusanmu. Semangat!

Masih Cikalongwetan, 18 Desember 2017
Aeninuraa

Kamis, 14 Desember 2017

Seberkas Harap

Entah benar atau tidak, entah sekedar basa-basi atau memang realita. Aku tak peduli.

Bagiku, pada rangkaian frasa itu ada seberkas harap. Cukup menjadi penawar dalam gundahku. Cukup mengobati sesakku.

Namun, aku pun tahu bahwa semua itu bukanlah jawaban atas penantianku. Usah melambung terlalu tinggi.

Biarlah harapku membumi, sementara do'aku melangit. Mendekat kepada Sang Pemilik waktu adalah jalan terbaik untuk saat ini.

Bersama rindu, 14 Desember 2017
Aeninuraa

Rabu, 13 Desember 2017

Dingin

Kepada malam yang semakin larut, dapatkah kau rasakan? Dingin kian menusuk. Namun aku masih di sini, bersama rintik pengusir senyap.

Aku telah bersusah payah menahan kantuk, menahan untuk tidak menyentuh selimut. Namun ia tetap dingin, lebih dingin dari es batu.

Kadang hati bertanya, apakah ia kan tetap membeku? Apakah takdirnya memang bukan untukku? Sungguh tak ada yang tahu selain Pemilik nyawaku.

Saat semua terasa semu, aku hanya bisa pasrah kepada Rabbku.

Dingin, 13 Desember 2017
Aeninuraa

Selasa, 12 Desember 2017

Langkah

Puluhan purnama telah kau lewati hingga detik ini atas izin-Nya.
Titik ini bukan untuk berbalik arah, tetapi untuk menguatkan langkah.
Usah berandai-andai terhadap apa yang telah berlalu.
Usah terlalu khawatir terhadap apa yang akan terjadi.
Jalani detik demi detik yang terus melaju.
Pahit ataupun manis tetap hadapi dan syukuri.

Jika kau merasa langkah ini begitu berat hingga kau tertatih atau bahkan merangkak.
Yakinlah bahwa Allah selalu ada bersamamu.
Jangan goyah hanya karena keinginan yang belum tentu menjadi kebaikan.
Engkau kuat bersama-Nya.
Engkau bisa melangkah karena-Nya.

Titik rindu, 12 Desember 2017
Aeninuraa

Senin, 11 Desember 2017

Sendiri?

Tak mudah membangun sebuah ketegaran dan melewati masa-masa sulit sendirian.
Namun, bukankah sebenarnya kita tak pernah sendiri? Sebab ada Allah dan dua malaikat yang selalu menyertai.

Bagi kebanyakan orang, sendiri itu  identik dengan sepi. Namun bagiku tak begitu, entah mungkin karena aku telah terbiasa?

Sendiri tak selalu berarti sendu. Ada kalanya hal-hal terbaik atau terburuk cukup disimpan untuk sendiri.

Sendiri?
Sendiri yang sejatinya tak pernah sendiri.

11 Desember 2017
Aeninuraa

Minggu, 10 Desember 2017

Hilang

Ada yang hilang, separuh asa.
Entah benar-benar hilang ataukah hanya untuk sementara?

Biar saja hilang.
Usah berandai-andai.
Dunia nyata bukan untuk drama.

Lepaskan, agar engkau tak terluka.
Sebab menggenggamnya terlalu kuat dapat meluruhkan air mata.

Hilang, barangkali suatu saat ditemukan.
Entah yang sama atau berbeda.
Tegarkan hatimu dalam ketetapan-Nya.

Bersama Malam, 10 Desember 2017
Aeninuraa

Minggu, 27 Agustus 2017

Rapuh

Beginikah rasanya?
Kembali ke titik terbawah.
Saat langkah hampir menapaki puncak.
Engkau membentangkan jarak.

Tujuh belas hari, tanpamu.
Aku masih di sini.
Merekatkan kepingan harap.
Diantara do'a dalam senyap.

Rapuh, itulah yang kurasa saat ini.
Entah sampai kapan?
Tertatih dalam impian.
Membiaskan kepastian.

Detik demi detik berlalu.
Aku bersama waktu.
Meski rapuhku kau abaikan.
Engkau tetaplah perantara kebaikan.

Bersama Senyap, 27 Agustus 2017
Aeninuraa

Selasa, 08 Agustus 2017

Hanya Aku

Aku masih bersama senja.
Bersama riuhnya do'a.
Hanya aku, tanpa kamu.
Harapku perlahan merapuh.
Kamu terasa begitu jauh.
Jangankan untuk kugapai.
Mendekat pun belum tentu sampai.

Rindu ini hanya rinduku.
Bukan kamu.
Sesak ini hanya sesakku.
Bukan kamu.
Inginku bukanlah inginmu.
Mimpiku bukanlah mimpimu.
Hanya aku, tanpa kamu.

Cipanas, 08 Agustus 2017
Aeninuraa

Sabtu, 08 Juli 2017

Perpisahan

Apa yang kamu rasakan saat membaca kata 'Perpisahan'? Sedih? Menyesal? Kecewa? Atau bahkan marah?

Aku pernah menulis kalimat ini:
"Tidak ada perpisahan yang baik-baik saja. Sekalipun kita menyebutnya jalan terbaik dari pilihan yang ada."

Perpisahan dengan siapa pun itu, tidak ada yang merasa baik-baik saja. Sebab, sekuat apa pun manusia tetap punya hati. Hanya saja, ada yang tetap tersenyum meski sebenarnya hati tak rela. Ada yang terlihat tegar meski begitu rapuh dalam hatinya.

Bagiku, perpisahan adalah salah satu puzzle kehidupan yang pasti dialami oleh setiap manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap orang harus melewatinya.

Saat perpisahan terjadi, entah itu dengan keluarga, sahabat, teman, atau mungkin seseorang yang istimewa dalam hidup kita, rasa sedih dalam hati pasti ada. Namun, perpisahan di dunia setidaknya hanya terpisah oleh jarak. Masih ada alat yang canggih untuk berkomunikasi, masih ada kesempatan untuk bertemu kembali.

Pernahkah kamu berpikir? Bagaimana jika tiba saatnya perpisahan antara kita dengan dunia beserta seluruh isinya?

Sungguh, perpisahan yang paling kukhawatirkan adalah berpisahnya ruh dengan raga. Akankah khusnul khatimah atau sebaliknya?

Sabtu Malam, 08 Juli 2017
Aeninuraa

Jumat, 07 Juli 2017

Sebelum Terlelap

Sebelum terlelap, izinkan aku menuliskan untaian kata yang memenuhi ruang imajinasiku, tentangmu.

Kamu adalah teka-teki yang tak mudah kutemukan jawabannya. Kamu adalah labirin yang tak kutahu ujungnya.

Aku tak ingin berandai-andai terlalu jauh. Aku takut, aku takut suatu saat terjatuh dan merapuh.

Saat kau hadirkan dia, aku mengerti. Mungkin itu niat baikmu, agar aku tak sendiri dan kamu bisa pergi.

Maafkan aku jika aku terlalu egois. Sungguh, hati tak bisa dipaksa meski dibujuk dengan puisi paling romantis.

Aku tak berhak memintamu untuk menetap, namun aku berhak menentukan sikap.

Semoga kau mengerti, aku masih ingin di sini. Bersama do'a dan harap, sebelum terlelap.

Bersama hening, 07 Juli 2017
Aeninuraa

Entah

Entah aku yang tak sabar.
Ataukah kamu  yang tak sadar?
Entah.

Entah tetap aku dan tetap kamu.
Entah menjadi kita?
Entah.

Entah berujung bahagia.
Ataukah sebaliknya?
Entah.

Di depan TV, 06 Juli 2017
Aeninuraa

Selasa, 04 Juli 2017

Coretan Malam

Saat kau terjatuh hingga terluka, sakit yang kau rasa takkan hilang dalam sekejap saja. Namun, bukankah hujan pun ada redanya? Rasa sakitmu itu akan sembuh bila telah tiba waktunya.

Saat kau kecewa dan merasa sesak dalam hatimu, tak mudah untuk tetap berdiri dengan tegar. Namun, bukankah sabar adalah sebaik-baik penawar? Sabar yang bukan sebatas kata sabar.

Saat rencanamu tak sesuai dengan yang kau harapkan, ingatlah bahwa hanya Allah Yang Maha Mengatur segalanya. Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Sedih, sesak, kecewa, menyesal, marah, semua itu ada pada setiap manusia. Namun saat rasa itu menyapa, jangan sampai tenggelam di dalamnya. Sewajarnya saja.

Baik dan buruk hidup kita adalah bagian dari ketetapan-Nya. Tugas kita adalah berusaha menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Jangan pernah putus asa terhadap rahmat-Nya. Yakinlah, tiada suatu kebaikan pun yang sia-sia.

Di bawah cahaya, 04 Juli 2017
Aeninuraa

Jumat, 30 Juni 2017

Rindu Tanpa Titik

Rindu tanpa titik
Seperti menanti kemarau di musim hujan.
Seperti menghapus jejak dalam bayangan.
Kadang menyesakkan, namun di lain waktu menghadirkan kejutan.

Rindu tanpa titik
Pagi terlihat semu.
Siang malam terasa sendu.
Hanya kepada-Nya tempat mengadu.

Rindu tanpa titik
Terasa hampa dalam kata.
Terasa aneh saat tak bersua.
Tapi, barangkali memang harus ada jeda.

Rindu tanpa titik
Membisu dalam kata.
Bersama senyap tak henti berdo'a.
Berharap aku dan kamu menjadi kita.

Rindu tanpa titik
Aku tak menunggu jawaban.
Aku pun tak meminta balasan.
Ini hanya sebatas ungkapan.

Rindu tanpa titik
Mungkin bukan aku cahaya di langitmu.
Mungkin bukan aku rindumu.
Namun, setidaknya aku pernah menjadi bagian warnamu.

Bersama rintik senja, 30 Juni 2017
Aeninuraa

Rabu, 28 Juni 2017

Bukan Sekedar Kata

Rangkaian huruf menjadi kata.
Setiap kata memiliki makna.
Ada satu kata yang bukan sekedar kata.
Kau tahu?
Kata itu mudah ditulis.
Kata itu mudah pula diucapkan.
Tapi, tak mudah dilakukan.
Butuh proses untuk berdamai dengannya.
Butuh waktu yang tak sebentar untuk menumbuhkannya.
Kadang membuat sesak hingga berurai air mata.
Kadang teramat sakit hingga diri ingin menyerah saja.
Namun, dari satu kata itu manis buahnya.
Selalu baik hasilnya.
Kau tahu? Apa satu kata itu?
Satu kata yang bukan sekedar kata.
Ia adalah rasa "Sabar" dalam hati kita.

Dalam sunyi, 28 Juni 2017
Aeninuraa

Selasa, 27 Juni 2017

Tanya Tanpa Jawab

Kau tanya, kenapa?
Aku diam.
Kau tanya lagi, kenapa?
Tak kujawab.
Hening.
Kau coba menyapa.
Aku masih diam.

Maaf.
Aku bersembunyi di balik diam.
Maaf.
Kudiamkan engkau lebih dari dua puluh empat jam.
Aku malu.
Tanya tanpa jawab untuk membiaskan egoku.
Maaf, aku tak pandai menjaga tingkahku.

Pagi yang dingin, 27 Juni 2017
Aeninuraa

Kamis, 22 Juni 2017

Aku Hanya Wanita Akhir Zaman

Aku tak mencari ia yang seperti Nabi Muhammad, sebab aku tak seperti bunda Khadijah.
Aku tak menanti ia yang seperti Nabi Yusuf, sebab aku tak seperti Zulaikha.
Aku tak menunggu ia yang seperti sayyidina Ali, sebab aku tak seperti Fatimah.
Aku tak mengharap ia yang sempurna, sebab aku pun bukan wanita yang sempurna.

Aku hanya wanita akhir zaman yang berusaha berubah menjadi lebih baik dari diriku yang dulu.
Aku hanya wanita akhir zaman yang berusaha menjemput hidayah-Nya.
Aku bukan mereka yang sudah istiqomah di jalan-Nya.
Aku bukan mereka yang pandai menjaga akhlaqnya.

Jika yang kau cari ia yang pandai memasak, maka bukan aku orangnya.
Jika yang kau mau ia yang pandai merias diri, maka bukan aku orangnya.
Jika yang kau damba ia yang sudah mengenakan niqab, maka bukan aku orangnya.
Jika yang kau harap ia yang rajin menghafal Al-Qur'an, maka bukan aku pula orangnya.

Aku hanya wanita akhir zaman yang haus ilmu agama dan butuh bimbingan.
Aku hanya wanita akhir zaman yang tak luput dari kelalaian.
Aku hanya wanita akhir zaman yang mencoba berjalan dalam ketaatan.
Aku hanya wanita akhir zaman yang membaca Al-Fatihah pun masih harus dibetulkan.

Aku sadar diriku belum baik.
Sungguh, aku jauh dari kata baik.
Aku hanya berusaha, akan terus berusaha.
Menjadi sebaik-baik perhiasan dunia.

Bersama mentari, 22 Juni 2017
Aeninuraa
#aeninuraa

Sabtu, 27 Mei 2017

Untuk Sebuah Nama The Last Part

UNTUK SEBUAH NAMA

Jika kau pandang siluet itu
Hatiku pun begitu
Mengertikah?
Namun biar kualihkan pada jingganya saja
Masih ada cahaya di sana
Cahaya bukan sekedar cahaya
Sebab padanya ada harap
Biar senja berganti malam
Biar gelap menemani
Kau tahu?
Esok masih ada cahaya
Meski tak sama
Setidaknya cahaya itu nyata
Dan ijinkan aku menyebut namamu
Dalam lantunan do'a di sepertiga malamku
Tiada yang bisa kulakukan selain berharap kepada-Nya
Sebab kuyakin tak ada do'a yang sia-sia

Bandung Barat, 22 Januari 2017
Aeninuraa

#CatatanAeninuraa
#aeninuraa

Rabu, 04 Januari 2017

Untuk Sebuah Nama Part 3

UNTUK SEBUAH NAMA

Baru dua puluh satu hari, namun seperti berbulan-bulan lamanya. Maafkan aku yang terlalu perasa hingga larut dalam prasangka. Jujur saja, sulit bagiku menerima kenyataan saat kau pergi tanpa alasan. Padahal aku tak berhak menahanmu untuk pergi, apalagi memintamu untuk tetap tinggal. Ya, siapalah aku bagimu? Hanya seorang teman, tidak lebih dari itu.

Tenang saja, aku pun cukup tahu diri. Aku bukan bidadari yang kau dambakan. Aku adalah aku. Tak perlu kujelaskan tentang diriku, sebab setiap orang tentu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadapku. Dan kamu? Tak perlu kusebut juga siapa dirimu. Sebab susunan huruf k, a, m, dan u sudah cukup jelas bagiku.

Oh iya, maaf aku telah lancang menjadikan kamu tokoh utama dalam ceritaku. Semoga tidak membuatmu merasa terganggu.


Bandung Barat, 20 Desember 2016
Aeninuraa

#CatatanAeninuraa
#aeninuraa

Untuk Sebuah Nama Part 2

UNTUK SEBUAH NAMA

Belum genap satu purnama
Aku hendak melangkah
Meski dengan tertatih
Dihantui beribu tanya
Ada hal yang tak bisa kupahami dengan logika
Entah kenapa? Begitu sesak mengingatnya
Inikah teka-teki rasa?
Hati dan logika tak seirama
Aku masih di sini, menyertakanmu dalam do'a
Kamu? Bahkan ingat saja mungkin tidak
Ya, tak mengapa bagiku
Aku baik-baik saja
Sungguh, aku baik-baik saja
Meski tidak dengan hatiku


Bandung Barat, 15 Desember 2016
Aeninuraa
 
#CatatanAeninuraa
#aeninuraa

Untuk Sebuah Nama Part 1

UNTUK SEBUAH NAMA

Aku terjebak dalam teka-teki rasa
Aku lelah menerka-nerka
Ingin rasanya segera berlabuh
Namun entah di dermaga yang mana
Anganku berandai-andai
Jika saja engkau yang menjemputku
Tentu tak ada keraguan untuk menyambutmu
Sayang, itu hanya sebatas mimpi
Ilusi yang melumpuhkan realita
Lalu, dimana engkau berada?
Haruskah aku terus menunggu?
Atau segera beranjak?
Tak ada yang membuat hatiku baik-baik saja dari keduanya


Bandung Barat, 21 November 2016
Aeninuraa

#CatatanAeninuraa
#aeninuraa