UNTUK SEBUAH NAMA
Baru dua puluh satu hari, namun seperti berbulan-bulan lamanya. Maafkan aku yang terlalu perasa hingga larut dalam prasangka. Jujur saja, sulit bagiku menerima kenyataan saat kau pergi tanpa alasan. Padahal aku tak berhak menahanmu untuk pergi, apalagi memintamu untuk tetap tinggal. Ya, siapalah aku bagimu? Hanya seorang teman, tidak lebih dari itu.
Tenang saja, aku pun cukup tahu diri. Aku bukan bidadari yang kau dambakan. Aku adalah aku. Tak perlu kujelaskan tentang diriku, sebab setiap orang tentu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadapku. Dan kamu? Tak perlu kusebut juga siapa dirimu. Sebab susunan huruf k, a, m, dan u sudah cukup jelas bagiku.
Oh iya, maaf aku telah lancang menjadikan kamu tokoh utama dalam ceritaku. Semoga tidak membuatmu merasa terganggu.
Baru dua puluh satu hari, namun seperti berbulan-bulan lamanya. Maafkan aku yang terlalu perasa hingga larut dalam prasangka. Jujur saja, sulit bagiku menerima kenyataan saat kau pergi tanpa alasan. Padahal aku tak berhak menahanmu untuk pergi, apalagi memintamu untuk tetap tinggal. Ya, siapalah aku bagimu? Hanya seorang teman, tidak lebih dari itu.
Tenang saja, aku pun cukup tahu diri. Aku bukan bidadari yang kau dambakan. Aku adalah aku. Tak perlu kujelaskan tentang diriku, sebab setiap orang tentu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadapku. Dan kamu? Tak perlu kusebut juga siapa dirimu. Sebab susunan huruf k, a, m, dan u sudah cukup jelas bagiku.
Oh iya, maaf aku telah lancang menjadikan kamu tokoh utama dalam ceritaku. Semoga tidak membuatmu merasa terganggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar