Sabtu, 20 Februari 2016

Aku dan Hijabku

Assalamu'alaikum.
Sahabat semua, kali ini aku menulis tentang hijab. Sudah tidak asing lagi kan dengan hijab? Ya, sekarang ini hijab sudah menjadi bagian dari fashion dunia. Tapi yang akan aku sampaikan bukan tentang model-model hijab yang mendunia atau tutorial hijab yang sedang hits saat ini, aku hanya ingin berbagi pengalamanku dalam mengenakan hijab.
***

Sebelumnya, perkenalkan namaku Nuraeni Adriati (mungkin ada yang belum kenal). Aku asli orang sunda, berkacamata, hobi menulis dan membaca. Penyuka warna ungu sejak lahir dan sangat takut pada katak, kodok, atau hewan sejenisnya. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, lahir dari keluarga yang sederhana dan bukan keturunan ulama. Aku hanya manusia biasa keturunan Adam dan Hawa (Maaf, abaikan paragraf ini).

Di masa kecilku, aku belum mengenakan hijab. Aku belum tahu sama sekali tentang kewajiban berhijab bagi perempuan, apalagi aku sekolah di Sekolah Dasar (SD) yang pada saat itu umumnya tidak ada satupun siswi yang mengenakan hijab. Yang aku tahu, siswi tingkat SD yang mengenakan hijab adalah mereka yang bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sebenarnya aku pernah sekolah di MI selama satu tahun, tapi ketika naik ke kelas dua, aku pindah ke SD karena rumahku pindah. Jadi waktu itu aku mengenakan hijab ketika mengaji saja atau jika ada acara keagamaan lainnya.
Ketika melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, aku masih belum mengenakan hijab. Walaupun sebenarnya sudah ada keinginan untuk berhijab karena aku melihat teman-teman baruku di SMP dan kakak-kakak kelasku banyak yang berhijab. Aku sempat menyampaikan keinginanku kepada kedua orang tuaku, namun harus kuurungkan niatku karena pada saat itu orang tuaku sudah membelikan seragam sekolah yang pendek, termasuk pemesanan seragam batik dan baju olahraga. Aku tidak mau merepotkan mereka.

Selanjutnya, saat aku naik ke kelas delapan. Aku menyampaikan lagi keinginanku untuk berhijab, walaupun pada saat itu niatku masih karena melihat teman-teman alias ikut-ikutan. Aku harus mengurungkan kembali niatku, hambatannya karena orang tuaku mengatakan "Tanggung, kalau harus beli seragam batik dan baju olahraga tinggal dua tahun lagi. Seragam yang panjang juga lebih mahal harganya. Nanti saja kalau sudah SMA." Aku mengerti karena pada saat itu biaya sekolah di tingkat SMP Negeri belum gratis seperti sekarang. Awal semester lebih banyak pengeluaran untuk daftar ulang, membeli alat tulis, buku-buku (LKS), dan biaya lainnya. Kupikir, aku harus bisa mematuhi nasihat orang tuaku.

Pertengahan tahun 2008 aku naik ke kelas sembilan, selama semester satu aku masih belum berhijab. Tahun 2009, pertengahan semester duaku di kelas sembilan menjadi titik awal kudapatkan petunjuk-Nya. Saat itu, ada kegiatan keagamaan di sekolahku. Guruku (Guru Bimbingan Konseling (BK) & Pengembangan Diri) sebut saja Bu Najma, beliau menyampaikan materi tentang kewajiban menutup aurat bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Aku menyimak apa yang beliau sampaikan, aku masih ingat ketika beliau mengatakan "Menutup aurat itu wajib hukumnya bagi setiap muslim/muslimah yang sudah baligh. Khususnya bagi wanita, Islam sangat memuliakan wanita. Buktinya, aurat bagi laki-laki dan wanita berbeda. Dalam Islam, wanita lebih dijaga. Hebatnya lagi, ini perintahnya langsung dari Allah SWT." Bu Najma membacakan ayat Al-Qur'an yang menjelaskan kewajiban menutup aurat bagi wanita yaitu Surah An-Nūr ayat 31 yang artinya:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

Kemudian Surah Al-'Aĥzāb ayat 59 yang artinya:
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sepulang dari sekolah, bunyi ayat Al-Qur'an itu terus terngiang di kepalaku. Semua hal yang Bu Najma sampaikan benar-benar menyentuh hatiku. Sedih rasanya, kusadari bahwa ilmu agamaku sangat kurang. Saat itu aku sudah baligh tapi sholat yang lima waktu saja masih sering kutinggalkan. Aku sudah baligh tapi aku belum bisa menjaga auratku, bahkan aku baru tahu dari Bu Najma bahwa menutup aurat itu wajib dan perintahnya langsung dari Allah. Di tempatku mengaji, yang aku pelajari lebih banyak tentang ilmu Tajwid dan hafalan do'a-do'a harian. Tidak ada kajian-kajian islam atau waktu khusus untuk mempelajari kitab seperti yang ada di Pesantren.

Sejak saat itu aku mulai berusaha memperbaiki diri. Aku benar-benar ingin mewujudkan niatku untuk belajar menutup aurat. Masalahnya saat itu aku sudah kelas sembilan, tinggal beberapa bulan lagi aku akan lulus dari SMP. Rasanya tidak mungkin jika harus membeli seragam baru, batik baru, dan baju olahraga. Apalagi di akhir semester ada kegiatan liburan ke Yogyakarta. Aku sempat berpikir, mungkin nanti saja saat aku melanjutkan sekolah ke SMA baru bisa mengenakan hijab. Tapi sungguh Allah Maha Kuasa atas segalanya, apa yang tidak mungkin bagiku adalah hal yang sangat mungkin bagi-Nya. Ketika aku merasa kesulitan Allah memberikan berbagai kemudahan.

Hari itu, seperti biasa aku sedang belajar di kelas. Tiba-tiba, aku dipanggil oleh salah satu temanku untuk menemui Pembina OSIS. Aku kira ada kumpulan anggota OSIS atau pengumuman yang lainnya, aku segera minta izin keluar dari kelas. Ternyata aku tidak sendiri, ada dua siswa yang lainnya yaitu adik kelasku dari kelas tujuh dan kelas delapan. Aku sempat bingung, ada masalah apa sampai dipanggil oleh Pembina OSIS? Aku merasa tidak ada masalah apapun saat itu, apalagi kedua adik kelasku yang kukenal. Mereka juga termasuk anggota OSIS yang baik menurutku. Setelah beberapa menit, Pembina OSIS tiba di ruang TU tempat aku dan kedua adik kelasku menunggu. Beliau menjelaskan, kami dipanggil karena terpilih sebagai calon penerima beasiswa prestasi akademik saat itu. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Allah memberi kemudahan dari jalan yang tak pernah kuduga.

Sejujurnya, aku kaget dan heran karena prestasiku biasa saja. Aku bukan peraih juara umum di sekolah, bahkan di kelas sembilan peringkatku menurun. Kenapa aku yang terpilih? Tapi itu semua memang sudah menjadi kehendak-Nya. Allah tak pernah keliru dan Allah memang penulis skenario terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Selang beberapa hari dari pengumpulan persyaratan yaitu fotocopy nilai raport dari kelas tujuh sampai kelas sembilan, aku mendapatkan uang beasiswa itu. Aku benar-benar yakin, saat itulah aku bisa mewujudkan niatku untuk belajar menutup aurat. Kugunakan uang beasiswa itu untuk membeli alat tulis, seragam baru, hijab, dan batik sekolah. Untuk baju olahraga, aku tidak membelinya karena aku punya kaos anggota OSIS dengan lengan yang panjang, sedangkan celananya kugunakan celana olahraga panjang yang kupunya.

Hari pertamaku mengenakan hijab ke sekolah, awalnya aku merasa canggung dan kurang percaya diri. Perubahan penampilanku mengundang perhatian teman-temanku. Ada yang memuji, ada juga yang keheranan. Sampai-sampai ada yang mengira aku masuk pesantren (padahal enggak). Setiap pilihan memang ada konsekuensinya. Saat aku belum terbiasa mengenakan hijab ke sekolah, aku sering merasa kepanasan, merasa ribet dan tidak nyaman. Tapi lama-lama aku terbiasa dan merasa nyaman. Awalnya aku mengenakan hijab hanya saat ke sekolah saja, tapi perlahan aku belajar mengenakan hijab setiap keluar dari rumah. Ya, setiap perubahan memang butuh waktu dan proses. Semuanya bertahap, tidak ada yang instan.

Aku merasa saat itu adalah kesempatan terbaik yang Allah berikan kepadaku karena hatiku tergerak untuk meluruskan niatku dalam menutup aurat, bukan lagi karena ingin mengikuti teman-teman, tapi karena aku ingin belajar menaati perintah-Nya. Walaupun ibadahku, akhlaqku, dan hatiku belum baik. Tapi setidaknya aku berusaha menuju hal baik. Awalnya memang terasa berat, banyak sekali godaan dan cobaannya. Namun, dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh Allah selalu memberi jalan.
Alhamdulillah, hingga saat ini Allah masih memberiku keyakinan dan ketetapan hati untuk tetap berhijab. Meskipun kuakui belum sepenuhnya kutaati semua perintah-Nya, lisan ini seringkali tak terjaga karena berkata yang tak semestinya, dan hati ini sering lalai dari-Nya. Keimanan ini memang dinamis, ada naik turunnya. Maka, tegur aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku keliru. Katakan kesalahanku, namun jangan salahkan hijabku.
***
"Luruskan niat yang baik karena-Nya lalu segera laksanakan walaupun secara perlahan karena hidayah itu bukan hanya dinanti tapi harus diusahakan."
***
Nah, itulah sedikit pengalamanku dalam mengenakan hijab. Untuk semua yang membaca ini, terima kasih karena telah menyempatkan waktu membaca tulisanku sampai selesai. Ayo kita sama-sama berusaha memperbaiki diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Tulisan ini boleh dishare atau dicopas (copy-paste) sebanyak-banyaknya dengan mencantumkan sumbernya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. :)
Wassalamu'alaikum.

2 komentar:

Enallzz mengatakan...

sangat menginspirasi . . . . :)

Nuraeni Adriati mengatakan...

Alhamdulillah, terima kasih. :)