Gelak tawa terdengar dari dalam ruangan, tawa lepas tanpa kepalsuan, dan raut wajah polos penuh keceriaan. Alhamdulillah 'alaa kulli haal, Allah masih mengizinkanku menyaksikan suasana itu.
Seorang anak tiba-tiba keluar dari dalam lemari, salah satu temannya berkata "Sulap bu, sulap." Diiringi tawa renyah teman-temannya.
"Sulap apa?", kutanya.
"Ini dia bu, dia." jawabnya seraya menunjuk seorang anak yang hanya cengengesan menatapku.
"De, tolong ambilkan kapur ke kantor."
"Siaaap bu."
Beberapa saat kemudian ia datang membawa sejumlah kapur, dua buah yang ia serahkan kepadaku.
"Sebentar bu, sebentar mau sulap."
"Gimana?" aku menahan tawa.
"Ini bu. Yaah, gagal bu sulapnya." (ia mengeluarkan kapur dari pergelangan tangannya yang mengenakan seragam lengan panjang, gagal karena aku sudah lebih dulu melihatnya).
Seisi kelas menertawakannya, tapi ia kembali ke tempat duduknya seakan tak terjadi apa-apa.
Ketulusanmu itu nyata nak, ketulusan tawamu. Ibu bersyukur masih bisa menjadi perantara ilmu, ibu belum bisa jadi pendidik yang baik, namun ibu tetap berusaha melakukan yang terbaik.
#WriteEveryday158
15 Agustus 2018
Aeninuraa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar